Secara tidak sengaja ketika sedang melihat-lihat facebook,
saya membaca sebuah catatan berjudul “Ayahku Hebat” karya Siti Aminah atau Mba
Ami (lihat http://www.facebook.com/notes/siti-aminah/ayahku-hebat-/10150207303594277),
dengan ringan Mba Ami dalam catatannya mengungkap indahnya relasi setara dalam
keluarga, dan itu menjadi inspirasi bagiku untuk menulis tentang suamiku "Asep
Mufti" yang saat ini menjalani proses dialog denganku tentang feminisme
dan peran-peran gender, kemudian kami mempraktekkan dalam sebuah keluarga kecil
yang masih sangat baru dan belum memilki anak, pastinya perjalanan masih sangat
panjang.
Ya, kami sedang mencoba menerapkan
budaya baru dalam pola relasi kami dengan prinsip setara, tidak saling
mendominasi dan terus bekerjasama. Pastinya dia belum sepenuhnya menjadi
laki-laki baru dengan 10 kriteria yang disebutkan Gadis Arivia -- seperti yang
diuraikan dalam catatan “Ayahku Hebat” --, tapi dengan sangat sabar dia
menjalani proses itu dengan terus belajar teorinya sedikit demi sedikit dan
mempraktekannya. Salah satu prinsip yang sejak awal sudah disepakati adalah
anti poligami.
Prakteknya menurut pengalaman kami
juga sangat sederhana, karena dialog dan diskusi sudah dimulai jauh-jauh hari
sebelum Kami memutuskan menikah. Tibalah saatnya kami mempraktekannya, tepatnya
sejak bulan April 2011. Aku ingin menyebutnya sebagai Sang suami sabar dan
peduli, kenapa aku menyebutnya sebagai suami yang sabar karna dia tidak pernah
marah dan selalu tenang menghadapiku yang hobi ngomel-ngomel. Oiya,
sebelum terlalu jauh saya menyimpulkan tentang suamiku dan mungkin sangat
subjektif, karena itu saya ceritakan prakteknya saja dan bisa diambil
kesimpulan dari refleksi sederhana ini.
Setelah waktu cuti menikah berakhir,
secara otomatis kami bersiap-siap menjalani rutinitas masing-masing seperti
dahulu sebelum menikah, namun dalam situasi dan kondisi yang berbeda yaitu tinggal
bersama dalam satu rumah kontrakan, tidur bersama dalam satu kamar dan hampir
setiap hari menjalani aktivitas bersama kecuali pada saat bekerja. Kami bekerja
di 2 lembaga yang berbeda namun memiliki kedekatan sejarah, walaupun mungkin
ada kontradiksi diantara keduanya, seperti halnya kami berdua yang juga penuh
kontradiksi. Bagaimanapun kedua lembaga tersebut membuat kami bertemu,
berpacaran dan memutuskan menikah.
Aku dan dia memiliki ritme kerja
yang berbeda terkait jam kerja, suamiku lebih mengikuti ritme kerja dan
jadwalku. Setiap pagi saya harus membangunkannya, kalau tidak dia akan bangun
jam 8 pagi dan itu sangat terlambat bagiku untuk memulai aktivitas. Dengan
cukup sulit setiap hari dia bangun pagi dan sejauh ini tidak pernah mengeluh dengan
kebiasaan baru ini. Ada kalanya aku atau dia menyempatkan memasak atau membuat
menu-menu sederhana untuk sarapan atau kami putuskan untuk langsung berangkat
dan mengisi perut di luar rumah saja.
Tidak ada keharusan mengerjakan
pekerjaan domestik buat aku ataupun dia di pagi hari, yang menjadi prioritas
adalah mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. Di rumah kontrakan kami
tinggal berdua. Setiap hari rumah masih cukup rapi dan bersih hanya dengan
disapu suamiku di pagi hari. Dia tidak pernah mengharuskanku mengerjakan
apapun. Biasanya membakar roti atau membuat nasi goreng menjadi inisiatifku
untuk menikmati sarapan berdua di rumah. Dia lebih suka aku yang memasak karena
kalau dia yang memasak hasilnya tidak enak dan faktanya memang begitu karena itu
ketika aku sedang memasak dia selalu menemaniku hanya untuk belajar bagaimana
cara memasak. Dia juga biasanya membantuku mencuci piring.
Di akhir pekan kita biasakan lari
pagi, lokasi yang kami pilih biasanya di Mugas, stadion Jatidiri atau di dekat
rumah saja. Kebiasaan ini sering kami lakukan bersama teman-teman. Biasanya
setelah itu kami makan bersama di luar, kemudian langsung pulang atau
mampir toko buku untuk melihat-lihat barangkali ada buku menarik yang bisa kami
beli. Rutinitas ini kadang tidak dilakukan, karena sesekali di akhir minggu dia
menemaniku mengunjungi orang tuaku yang tinggal di Pati. Sebagai anak bungsu
dari 3 bersaudara yang tinggal terdekat dengan orang tua -- domisili 2 kakakku
di Pandeglang dan Bekasi – aku dan suami selalu menyempatkan menengok orang
tuaku yang hanya tinggal berdua saja di rumah.
Setelah aktifitas lari pagi di akhir
pekan, biasanya kami beristirahat sejenak dan duduk-duduk di rumah kontrakan,
kemudian tiba saatnya membagi pekerjaan domestik yang tertunda selama hari
kerja yaitu mencuci, menyetrika, mengepel dan sebagainya. Kami berbagi tugas
dan memilih sesuai keinginan, biadanya aku mencuci dan dia menyetrika. Seperti
biasa kalau saya memasak dia akan menemani untuk belajar atau mengerjakan yang
lain seperti mengepel, mencuci motor atau menyapu halaman rumah. Hal ini terus
berlangsung selama usia pernikahan dua bulan.
Di waktu-waktu luang dia banyak
menghabiskan waktu untuk membaca buku, aku juga suka membaca buku, tapi dia
lebih tahan lama berkutat dengan buku. Ketika sudah bosan dengan buku gitar
diambilnya dan dinyanyikanlah beberapa lagu kesukaanku atau kesukaannya. Mulai
dari lagu romantis sampai lagu-lagu kritik pedas.
Ketika berdua saja diwaktu senggang,
seperti dimalam hari ketika pulang kerja atau saat hari libur kami bercanda
saling mengejek, tertawa berdua dan Romansapun tercipta. Kami tertawa
saling melihat, bercumbu, suka sekali dia mengecup bibirku atau pipiku, aku
juga membalasnya dengan kecupan-kecupanku kemudian yang terjadi kami saling
memandang, bersepakat pergi kekamar peraduan kami.
Cerita-cerita di atas mungkin
terkesan sangat biasa dan kami yakin sebenarnya tidak hanya pasangan baru
seperti kami yang ingin mempraktekkan hal serupa. Semua menjadi rutinitas
begitu saja tanpa siapa mengharuskan mengerjakan apa dan siapa berperan sebagai
apa. Barangkali itulah praktek sederhana kami dalam berupaya mempraktekan
keadilan peran gender dalam keluarga, tidak hanya memperdebatkannya
dengan sengit. Namun, berbicara keadilan dan kesetaraan gender tidak cukup
dengan praktek dalam pembagian kerja-kerja domestik saja, ada hal lain yang
juga sangat penting yaitu tentang siapa yang memberi kontrol dalam pengambilan
keputusan – keputusan penting dalam keluarga terutama yang menyangkut
kepentingan masing-masing sehingga tidak pernah ada unsur keterpaksaan. Semoga
setelah ini kami bisa berefleksi lagi melalui tulisan berikutnya untuk
memperdalam teori dan praktek tentang kesetaraan dalam keluarga.
----------------------------------
Ditulis oleh Afidah (didiskusikan
dengan Asep Mufti sebelum publikasi) Pasangan suami-istri yang sedang terus
belajar ingin menjadi......