Minggu, 09 September 2012

Diplomasi Perempuan Jawa


Oleh : Af' idah

Ketika membincang persoalan kesetaraan gender, kebanyakan orang cenderung melihat Barat sebagai kiblat. Padahal di belahan Timur dunia, tak jauh di depan mata, banyak fenomena kesetaraan gender yang luput dari perhatian kita. 

Di Asia saja, terdapat sederet nama yang menjadi pemimpin masyarakat. Entah itu presiden, perdana menteri, maupun yang menjadi menteri-menteri. Sebut saja diantaranya (alm.) Benazir Butho (Pakistan), Gloria Macapagal Arroyo (Filiphina) dan Megawati Soekarno Puteri (Indonesia). Tanpa bermaksud mengangkat nama Megawati pada iklim politik yang mulai panas menuju pemilu legislatif dan pemilu presiden 2009 dan terlepas dari fakta bahwa Megawati belum mencatat prestasi yang luar biasa sebagai pemimpin Namun Indonesia telah memberi kesempatan pada perempuan untuk memimpin.


Nama-nama ini belum terhitung perempuan yang menduduki jabatan penting di cabinet, legislative maupun organisasi social kemasyarakatan. 

Perempuan jawa adalah sosok perempuan yang punya keberanian besar  menjalani proses kehidupan. Dalam artian tak takut menghadapi segala penderitaan dan tantangan hidup. Sebab itulah dalam tulisan ini saya mencoba menguraikan bagaimana perempuan jawa berkiprah dan perempuan jawa sebagai representasi perempuan timur.

Kepemimpinan Perempuan
Amerika yang dianggap sebagai "Negara percontohan" demokratisasi di dunia, belum pernah satu pun menempatkan perempuan sebagai presden (pemimpin) Negara Paman Sam tersebut. 

Ini berbeda dengan Negara-negara (berkembang) yang justru lebih menghormati harkat dan martabat perempuan, dengan memberikan kesempatan yang sama dalam kepemimpinan. 

Indonesia pernah seorang presiden berjenis  kelamin perempuan, yaitu Megawati Soekarno Puteri. Jauh sebelum Megawati, ada RA Kartini yang menjadi ikon feminis modern di Indonesia. 

Di Pakistan, (alm.) Benazir Butho -meski hidupnya berakhir dengan tragis karena ditembak oleh pembunuh gelap- namun pernah menempatkan wanita memegang kendali pemerintahan di negeri tersebut. 

Hal sama terjadi di Filiphina. Dimana Gloria Macapagal Arroyo, alumnus Harvard University ini, mampu menyita perhatian public di sana, hingga akhirnya dia pun dipercaya menjadi pemimpin Negara. 

Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, bahwa perempuan itu bila diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, bisa berperan sebagaimana kaum Adam tersebut. 

Artinya, bahwa kesetaraan gender yang kita gembar-gemborkan selama ini, sudah mencapai pada aras yang cukup menggembirakan. Yang perlu dipertanykana justru Negara semacam Amerika Serikat. Di mana di alam demokrasi modern seperti sekarang ini, belum pernah satu pemimpin perempuan lahir di sana. 

Perempuan Jawa
Melihat fenomena perempuan Jawa yang merupakan masyarakat Timur, adalah hal yang sangat menarik. Satu sisi, perempuan Jawa sering dianggap tidak berdaya. Padahal di sisi lain, perempuan Jawa mempunyai peranan yang tak terperikan dalam kepemimpinan, tidak hanya dalam realitas masyarakat modern sekarang ini, bahkan jauh sebelum Indonesia menjadi Negara merdeka. 

Perempuan Jawa yang sering disebut kanca wingking dalam tradisi budaya Jawa, dimana sebutan tersebut memiliki makna negative, yakni ketidakberdayaan,  tetapi perempuan tertulis dalam tinta emas dalam sejarah baik pada zaman  Majapahit maupun Mataram.  

Anehnya, selama ini masyarakat masih memandang wajah perempuan jawa dengan wajah ketertindasan. Kaum feminis umumnya melihat kultur Jawa tidak memberi ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. 

Sementara dunia Barat, sekalipun masih mendapat mendapat protes dari kaum feminis, tetapi dianggap jauh lebih toleran dan memberi posisi yang baik bagi perempuannya.

Benarkah Barat lebih memberi posisi setara pada perempuan, atau sebenarnya perempuan sengaja dikondisikan untuk bekerja, dimana  dalam revolusi industri, untuk menekan modal karena upah wanita lebih murah. Jika melihat relasi kuasa, perempuan melayu (dalam konteks ini Asia Tenggara) tak terkecuali Jawa, terlihat bahwa kekuasaan bisa lahir dari ketakberdayaan. 

Teori kontradiktif dikemukakan Foucault. Di mana dalam pandangannya, di dalam teori fisika juga dapat ditemukan teori metafisika, pun dalam puisi,  dapat ditemukan dari rumus-rumus matematika.Artinya, sesuatu itu bisa dihasilkan dari sesuatu yang kontradiktif. Dan realitas berbicara, di mana dalam kultur Jawa, sebagaimana riset yang dilakukan Ardhian Novianto dan christina Handayani terhadap beberapa desa di Gunung Kidul, Yogyakarta, sebagaimana tertulis dalam buku yang diberi titel "Kuasa Wanita Jawa."

Dalam pandangan kedua peneliti tersebut, perempuan Jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapatkan kekuasaan. Ia justru harus memanfaatkan watak feminis yang melekat padanya. Kita bisa membuktikannya dengan melihat realitas terdekat, bahkan di rumah kita sendiri dengan melihat sosok Ibu, yang merupakan repesentasi perempuan yang berperan nyata di area domestic sekaligus publik.

Banyaknya ibu-ibu yang berdagang di pasar atau membuka warung di rumah, yang menegaskan bahwa ia telah berperan dalam kegiatan perekonomian, yang tentu saja telah berperan di area publik karenanya. Inilah yang dimaksud Diplomasi perempuan Jawa. Di mana dengan kekuatan akal-pikiran serta tenaganya, perempuan mencari solusi atas problem-problem yang ada. Sebuah pekerjaan yang maha berat. Karena selain itu, para perempuan masih memiliki beban menjaga anak dan "mengabdi" kepada suaminya. 

Sebagai seorang ibu, perempuan Jawa bukanlah sosok yang ambisius untuk mendapatkan kedudukan public tertentu. Melainkan ia memposisikan diri sebagai support untuk keberhasilan sang suami. 

Mengedepankan rasa dan bukan emosi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, juga merupakan kelebihan yang belum tentu bisa dilakukan seorang laki-laki. Ini sekaligus menjadi penegas, bahwa perempuan memiliki kecerdasan dan bisa mengelola sebuah persoalan dengan pikiran (kecerdasan) dan rasa tersebut. 

Dengan berbagai hal di atas, rasanya tidak sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa perempuian Jawa adalah perempuan dengan segenap kelebihan yang harus diapresiasi karenanya. Bukankah demikian ?



Semarang, 31 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar